Mari merenung
sejenak, pernahkah kita mendengar tetangga kita atau teman kita, atau orang
yang berdampingan dengan kita di dalam kendaraan umum, atau tidak perlu jauh-jauh,
orang tua kita atau diri kita sendiri, di mana kita secara sadar atau tidak
mengatakan "dia telah jadi orang" didasari jabatan tinggi yang
didapatnya, atau "dia sudah sukses" karena gajinya semakin naik
sehingga bisa beli rumah yang bertingkat-tingkat, atau "dia sudah
bahagia" karena sudah bisa menikmati pemandangan-pemandangan indah di
berbagai Negara, kita renungi
kata-kata kita, itukah yang di katakan bahagia, itukah yang dikatakan sukses,
itukah yang disebut manusia jadi manusia?
Bagi orang yang
matrealis, maka tiap detiknya adalah perdagangan, untung dan rugi, tiap detik
digunakan untuk melakukan usaha agar menghasilkan pendapatan, bahagia adalah
banyaknya harta yang dimiliki. Bagi yang suka hura-hura, maka hidup di dunia
adalah senang-senang dan di akhirat (jika ada) masuk surga, bahagia adalah
pesta, joget-joget, tertawa-tawa, kumpul-kumpul, shoping-shoping dan
segala kegiatan yang menunjukkan kita kaum penganut hedonis.
Kembali kita
renungkan, dimana letak kebahagiaan kita, ada di kaum matrealis, atau yang suka
hura-hura, jika tidak keduanya, maka dimana letak kebahagiaan kita, kenapa kita
tidak memilih kebahagian dalam taraf dua kaum tersebut? Hal ini penting
karena kesalahan mengidentifikasi arti bahagia adalah sumber utama
penyakit-penyakit sosial, mulai dari pencuri ayam hingga koruptur. Bagaimana tidak, jika kebahagian diartikan sebagai terpenuhinya
tuntutan nafsu, maka segala cara digunakan untuk mencapainya.
Tentunya
sebagai muslim, kita bersikap dengan sangat tegas, bahwa kebahagiaan kita
berdasar islam. Lalu seperti apa ukuran bahagia dalam islam?? Apakah berbeda
dengan dua konsep bahagia diatas, yang tidak bisa dipungkiri lagi mejadi taraf
bahagia untuk masyarakat pada zaman sekarang.
Jika kita
muslim, maka, kembali dengan tegas kita katakan, tidak sama..!
Telah yakin?? Selanjutnya mari kita tela'ah pernyataan-pernyataan
ini, lalu kita simpulkan dengan hati dan pikiran yang jernih, dan katakan
dengan tegas "inilah bahagia menurut islam, inilah bahagia menurut kita.Ukuran bahagia dalam islam
Dalam kitab Mufrodaat
Al-Alfhazh, al-Ashfahani
menjelaskan bahwa islam itu serumpun dengan kata as-sulam dan as-salaam,
as-Sulam adalah tangga, jadi berdasarkan makna ini, islam bisa dimaknai
sebagai alat, pedoman untuk meraih as-salaam, lebih lanjut lagi, al-Ashfahani
mengartikan as-salam dalam kaitannya dengan islam.
غني بلا فقر عز بلا ذل و بقاء بلا فناء
Artinya: kaya
tanpa adanya miskin, mulia tanpa adanya hina, kekal tanpa adanya fana.
Dari telaah
ini, maka islam sebagai pedoman manusia memiliki hakikat bahagia, tujuan
ajarannya dan mashlahatnya tersendiri, dimana itu diukur dari sisi kaya yang
tak lagi miskin, mulia tak lagi hina dan kekal tanpa pernah lagi fana. Hakikat
bahagia dalam artian ini menuntut islam menuntun manusia tidak hanya
berorientasi pada dunia melainkan hingga saat dimana manusia takkan lagi
mengalami kematian untuk kedua kalinya, maka tak salah jika kita katakan, bahwa
bahagia yang di tujukan islam, adalah surga
"daar as-salaam".
Dan oreintasi
bahagia tersebut, tidak menjadikan seorang muslim memandang dunia sebagai
tempat persinggahan belaka, melainkan sebaliknya, akan memandang dunia sesuai
dengan porsinya, yaitu lahan menanam amal-amal agar memiliki persiapan yang
cukup untuk meraih kebahagian sesungguhnya, jadi secara langsung bahagia
akhirat dapat, tanpa menafikan kebahagiaan di dunia.
الدنيا مزرعة
الاخرة Artinya : Dunia
adalah lahan (amal) untuk akhirat.
Dengan
pemaknaan bahagia diatas pula, maka seorang muslim tidak akan pernah menjadikan
segala keindahan dunia sebagai tolak ukur kebahagiaan mereka, apa yang ada di
dunia bukan jadi tujuan, karena jika ia, maka habislah kehidupan, tidak perlu
lagi akhirat, dan itu tidak mungkin, karena menyalahi keyakinan seorang muslim
bahwa hari pembalasan itu ada. Tapi tidak pula membuat orang muslim itu jauh
terhadap harta, melainkan jika memiliki harta dan kekuasaan maka bukan harta
dan kekuasaan itu yang menguasainya, melainkan dialah yang menguasainya, dengan
itu, harta tidak akan dijadika tuhan, tidak digunakan untuk hura-hura belaka,
tapi pandangan awal, bahwa tiap yang ada di dunia ini akan dianggap anugerah
yang mangharuskan mereka untuk bersyukur, juga sebagai ujian, apakah mereka
akan sadar bahwa dari harta itu ada hak orang lain, sehingga harus di sisihkan
sebagian.
Artinya : Dan orang-orang yang pada hatanya ada hak yang telah disiapkan bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta.(QS. Al-Ma’arij : 24-25)
Dengan itu, sebenarnya Allah ingin melatih jiwa seseorang untuk suka menderma, rendah hati dan tidak merasa lebih dari lainnya, utamanya mendidik hamba untuk tidak menuhankan apa-pun selain diriNya, maka imbasnya, muslim tidak akan pernah berpikir untuk menjadi miskin agar menghindari dunia, melainkan mengejarnya untuk kemudian di belanjakan di jalan Allah swt, jika itu terwujud maka kesenjangan sosial berdasarkan kekayaan dan pangkat tidak akan ada, tidak ada lagi orang yang terhina karena menjadi pekerja rendahan dan mereka akan selalu merasa kaya bukan karena dunia tapi karena kaya jiwanya disebabkan didikan Allah dalam memandang dunia, maka tidak salah apa yang diakatakan Rasulullah SAW :
ليس الغنى عن كثرة العرض انما الغنى غني النفس
Artinya : Kekayaan bukanlah banyak harta, melainkan kaya adalah kaya pada
jiwa.
Syekh at-Thohawi
dalam kitabnya Syarh Musykil al-Atsar mengartikan
lafadhz "ghina" disitu adalah:
الذى
تتفرغ به عن الدنيا و عن اهتمام لها
Artinya : Yaitu sesuatu yang membuat hati tidak lagi tercurahkan pada keduniaan dan tidak lagi mementingkannya.
Artinya : Yaitu sesuatu yang membuat hati tidak lagi tercurahkan pada keduniaan dan tidak lagi mementingkannya.
Dengan prinsip
itu pula segala yang dilakukan oleh seorang muslim akan di niatkan hanya untuk
Allah SWT, ingin digolongkan sebagai amal shaleh. Semua imbas dari pemaknaan
itu maka akan tercipta kondisi sosial yang sehat dan menguntungkan banyak
pihak, penyakit sosial akan di tekan, akibat buruk dari modernitas akan
terhalang, hedonistik akan terkendali tanpa pernah menurunkan etos kerja dari
sebuah masyarakat.
Selain makna
itu, islam juga diartikan sebagai penyerahan, artinya penghambaan secara penuh
baik jiwa dan raga, atau seperti yang dikatakan oleh al-Maraghi dalam tafsirnya:
استعباد
الروح و اخضاعها لسلطة غيبة لا تحيط به علما
Artinya : Penghambaan ruh dan ketundukannya pada kekuasaan yang gaib dimana,
engkau tidak mengetahuinya.
Sehingga
seorang muslim yang baik dituntut selalu rela dan ikhlas terhadap apa yang di
tetapkan Allah atas dirinya, merelakan tiap liku kehidupannya pada kepatuhan
atas aturan-aturan Allah yang tertera dalam ajaran Islam, dan yakin bahwa Allah
adalah maha Adil dan akan selalu Adil terhadap ketentuan-ketentuan yang Ia
tetapkan kepada hambaNya. Yakin bahwa Allah mengharamkan kezhaliman dan
mengharamkan pula kepada hamba-hambaNya,
ketentuan Allah meliputi segala hal, sehingga ketika seorang muslim
mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan usaha dan harapannya, maka dia tidak
akan pernah berputus asa dan berburuk sangka pada Allah, bahkan akan yakin
bahwa apa yang ditetapkan Allah adalah hal yang terbaik yang tidak bisa
dijangkau oleh pengetahuan seorang hamba.
Artinya : Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 216)
Pada dasarnya seorang yang beriman, dan menyatakan islam, maka dia dituntut bisa ridho sesuai yang kita jelaskan diatas, kerena dari 6 hal yang kita imani, salah satunya adalah mengimani ketentuan qadha dan qadhar Allah. Untuk itu ridho merupakan salah satu manifestasi dari iman kita, kemudian ridho itu akan melahirkan sikap tenang, jujur, yakin dan selalu percaya diri serta berperasangka baik, dengan sikap rela ini pula seorang muslim akan selalu mengotipmalkan potensi yang dia miliki sebagai wujud dari kerelaan atas apa yang Allah berikan padanya.
Dari semua pemaknaan islam terhadap hakikat bahagia, maka tentunya kita sadari, kebahagian itu tidak diukur dengan keduniaan yang kita miliki, dan pada kenyataannya keduaniaan itu belum tentu mendatangkan kebahagian, malah tidak sedikit menimbulkan penyakit-penyakit social, kebahagian seorang muslim yang didasarkan pada islam adalah ketenangannya menerima apa yang Allah berikan, berperasangka baik bahwa Allah memberi yang terbaik, dan itu bisa di raih dengan iman dan amal shaleh.
Setelah semua tela'ah yang dilakukan, maka tentunya sangat lah curam jurang perbedaan kebahagian menurut islam dan konsep-konsep umum dizaman sekarang serta aspek-aspek baik buruknya. Sebagai muslim, sudah menjadi keharusan memutar haluan pencapaian bahagia kita, menuju hakikat bahagia sesuai islam, dengan beramal shaleh dan ridha terhadap ketentuan Allah, yang dengan itu akan lahir ketenangan jiwa dan selalu merasa cukup, maka bahagia bukan lagi barang langkah.
Semua tela'ah yang dilakukan, teryata telah digambarkan secara sederhana namun mendalam oleh Allah dalam dua ayatnya pada surat al-Bayyinah:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ
خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ
تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)
Artinya : Dan sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh merekalah
itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga
Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ; Allah ridho terhadap mereka dan
merekapun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang
yang takut kepada Tuhannya
(QS. Al-Bayyinah : 7-8).
Jika merujuk pada hakikat kebahagiaan menurut ajaran Islam yang telah dijelaskan, siapakah yang pantas disebut orang bahagia? Siapakah yang disebut orang sukses? Dan siapakah manusia yang telah jadi manusia? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena seperti telah disampaikan di awal tadi, kesalahan mengartikan kebahagiaan dan memaknai pencapaian kesuksesan adalah pangkal malapetaka sosial. Hedonisme adalah induk ketamakan, dan ketamakan, seperti petuah Ibnu Kahldun, adalah pangkal tumbangnya peradaban.




Posting Komentar
"Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan"